Jadi Developer Product Microsoft Juga


Posting ini merupakan posting awal saya tentang produk-produk Microsoft. Dulu saya cukup antipati sama product Microsoft, dimulai dengan alasan idealisme, sampai kepada masalah gengsi. Gengsi pake product Microsoft karena g Laki!🙂, letak g Laki nya karena kebanyakan cuma drag and drop dan developer benar-benar dimanjakan dengan banyak wizard, sehingga kadang2 bisa membuat developer g ngerti proses di balik wizard itu.

Tapi lambat laun rasa antipati itu hilang, ketika saya mulai masuk dunia kerja. Di tempat kerja sekarang ini, semua produk yang dihasilkan kebanyakan (atau bahkan semuanya) dihasilkan dengan menggunakan tools dari Microsoft. Visual Studio, C#, ASP .Net, MVC, K2 Workflow, Windows Mobile, Silverlight, WPF, WCF, Sharepoint, Biztalk, dll. Bahasa ibu yang saya miliki (baca: Java) tidak pernah saya gunakan untuk mengerjakan projek-projek di kantor. Lambat laun saya mulai terbiasa dengan produk-produk Microsoft di atas.  Saya sekarang cukup familiar dengan C#. Awal belajar C# pun tidak cukup sulit, karena 60% nya merupakan serapan dari bahasa Java.

Perkenalan dengan Microsoft di kantor, membuat saya berfikir ulang tentang masa depan saya (lebay… :)). Klo hati kecil saya terus menolak microsoft, saya tidak akan bisa all out dalam kerja alias setengah-setengah, dan tentunya hal ini berakibat kurang baik dalam hal kinerja saya di kantor. Lalu bagaimana dengan alasan2 awal saya menolak Microsoft? Klo saya mw menerima Microsoft, berarti saya harus bisa menjawab, alasan2 tersebut. Setelah saya renungkan, ini adalah jawaban yang dapat saya berikan untuk saya sendiri🙂

  • Microsoft itu seperti monster yang memakan/memonopoli perusahaan lain
    G peduli, karena yang dimakan/dimonopoli pun belum tentu perusahaan yang baik.
  • Microsoft itu matre, pelit
    Istilah matre di sini, saya sebutkan karena produk-produk Microsoft dijual sangat mahal, dan hampir tidak mungkin bisa dipake oleh orang biasa. Beruntung bagi mahasiswa atau developer di kantor yang institusinya sudah bekerja sama dengan Microsoft, dia g kena masalah ini. Ok, jawaban saya untu ini adalah. Dari pengalaman saya yang sedikit maslah development software, saya benar-benar ikut terlibat dalam setiap karakter yang saya ketikkan sendiri di keyboard. Dan saya merasakan sendiri rasa cenat-cenut di kepala ketika memikirkan algoritme yang tepat dan efisien. Dan saya juga merasakan tidak tidur semalaman untuk develop sebuah software. Dan klo software yang saya hasilkan itu, saya minta penggantinya berupa materi, maka hal itu adalah hal yang wajar, karena produk tersebut memang dibuat dengan susah payah dan saya memang pantas mendapatkan bayaran. Jadi apa maslahnya ketika kita Microsoft tidak menggratiskan produk2nya? Terus tentang harga software yang sangat mahal itu? Saya mengakui, bahwa produk2 yang dibuat Microsoft benar2 powerfull, user interfacenya bagus, yang betul2 dibuat berdasarkan analisis yang akurat terhadap user, serta integrasinya dengan semua produk Microsoft, serta dokumentasi yang sangat lengkap. Kelebihan2 ini yang saya pikir wajar jika produk2 Microsoft dijual dengan harga tinggi. Dan lagi, masalah harga adalah masalah yang relatif. Orang tidak akan merasa mahal karena apa yang dia dapatkan sebanding dengan yang dia keluarkan. Suatu software yang murah, tapi banyak bug, dan besarnya biaya perbaikkan tentunya tidak lebih menguntungkan daripada beli sofware yang mahal, reliable, dan tidak membutuhkan  biaya-biaya lain yang signifikan.
  • Microsoft itu tidak mendidik developer
    Tidak mendidik karena membiarkan developer tidak memahami/menyentuh proses di belakang layar. Hal ini sebenarnya kembali kepada developer yang bersangkutan. Bantuan ini bukan berarti developer tidak mengetahui, banyak buku, artikel, diskusi yang membicarakan proses di belakang layar, yang tentunya akan membuat developer lebih tahu tentang hal itu. Sedangkan saat development, kita dikejar dengan deadline yang membutuhkan penyelesaian yang cepat. Sehingga kemudahan2 yang diberikan oleh Microsoft sebetulnya akan lebih banyak membantu pada saat2 seperti ini. Dan fokus kita sebagai developer adalah tetap kepada algoritme dan main proses serta logic yang dibutuhkan dalam softwre tersebut. So, tetep Laki dengan pake Microsoft (dengan catatan: waktu pembuatan program harus lebih cepat, Software yang dihasilkan lebih interaktif).
Yap akhirnya saya mulai menerima Microsoft dan mulai mengembangkan aplikasi2 sendiri dengan produk-produk Microsoft. Dan mungkin kedepannya blog ini pun akan saya tambahkan dengan share pengalaman development menggunakan C#, WCF, WPF, Sharepoint, dll…

About windupurnomo

I'm interested in programming. I am active with several programming such as Java, C #, C, JavaScript, HTML. I'm also develop desktop application (Java Swing), Mobile Application (Android), and Web programming (ASP MVC).
This entry was posted in Microsoft and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Jadi Developer Product Microsoft Juga

  1. syabac says:

    enak kan development di Microsoft environment..

  2. atikkur says:

    kelebihan microsoft memang dokumentasi lengkap dan cukup detil, komunitasnya juga luas. tanpa dokumentasi yang detil, mau bisa apa? tapi ada bahayanya juga kalo semua diserap microsoft semua, mereka bisa semena2 suatu saat (tentang teknologinya)… dan user cuma ada dua pilihan, menurut aja atau pake produk lain. jadi diversifikasi tools tetap harus dilaksanakan. hehe.. sorry, cuma noob aja saya.

    • windupurnomo says:

      Setuju kang. Platform itu seharusnya hanya tool dan sebagai developer seharusnya g tergantung ke platform.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s